Thursday, June 30, 2011

Bahan Saat Teduh 30June2011

“Selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.” (Yudas 1:23)

Sewaktu kita baru bertobat dan mengalami banyak pertolongan Tuhan, kita cenderung berapi-api untuk menceritakan kesaksian kita kepada orang lain. Kita rindu agar anggota keluarga kita, teman kantor atau sekolah kita, untuk mengalami kasih Tuhan juga. Namun, seringkali makin lama, kerinduan itu memudar.

Kita harus menjaga kerinduan akan jiwa-jiwa. Jangan sampai hilang. Kalau kita menemukan ada orang yang terhilang, seharusnyalah belas kasihan itu bisa kita tunjukkan dan berikan kepada mereka, injili dan tuntun mereka untuk bisa menerima keselamatan dari Tuhan itu.

Beberapa orang mengaku dirinya Kristen tapi belum menjadi penuai jiwa, melainkan terus minta dilayani. Sebagai pekerja-pekerja Kristus, kita harus minta kepada Tuhan untuk memiliki belas kasihan seperti Tuhan Yesus terhadap jiwa-jiwa yang terhilang. Belas kasihan tersebut yang akan memberikan kita ketekunan dan kesetiaan untuk terus berdoa dan melayani orang-orang yang sulit sekalipun. Belas kasihan itu yang akan membuat kita jadi penuai-penuai jiwa. Sebagai orang percaya, kita harus punya hati penuh belas kasih bagi jiwa-jiwa!

Baca dan renungkanlah Yudas 1:21-25
1. Apakah yang harus kita lakukan sebagai orang percaya sambil menantikan hidup yang kekal? (ayat 21)
2. Apa yang harus kita lakukan kepada orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus? (ayat 22-23)
3. Apa jaminan yang Tuhan berikan kepada kita sebagai orang percaya? (ay. 24)


SHARED BY
Al.Kira

Source:
AOC - JAKARTA

Wednesday, June 29, 2011

Bahan Saat Teduh 29June2011

“Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."  (Lukas 15:10)

Kita bisa meneladani George Muller, orang yang selalu memiliki kerinduan agar setiap orang diselamatkan. Suatu hari ketika George Muller ditanya tentang pengalaman doanya. "Apakah di dalam hidup pak George, ada doa yang Tuhan tidak jawab?" Dengan mata melotot dan suara yang keras ia menjawab, "Semua doa-doaku dijawab, hanya ada satu doa yang belum Tuhan jawab, yaitu doa untuk teman baik saya selama 38 tahun agar dia menerima Tuhan Yesus."

Banyak orang bertanya mengapa doa yang satu ini tidak dijawab oleh Tuhan? Ternyata, ketika George meninggal, tepat pada hari penguburannya, di depan liang kubur bertelut seorang tua dengan air mata bercucuran dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Orang tua itu adalah teman George yang telah didoakannya selama 38 tahun. George Muller boleh mati tetapi doa-doanya tetap hidup. Ditemukan, buku catatan doanya yang berisi puluhan ribu pokok doa. Dahsyat sekali! Di dalam catatan itu, tidak ada satupun doanya yang tidak dijawab Tuhan.

Baca dan renungkanlah Lukas 15:1-10
1. Dua perumpamaan yang baru saja kita baca menggambarkan hati Tuhan yang sangat mengasihi orang-orang yang terhilang dan tersesat. Tindakan apa yang yang Tuhan  lakukan terhadap mereka? (ayat 4, 8)
2. Apa yang terjadi ketika jiwa-jiwa terhilang ditemukan kembali? (ayat 7, 10)


SHARED BY
Al.Kira


Source:
AOC - JAKARTA

Tuesday, June 28, 2011

Bahan Saat Teduh 28June2011

"Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.”  (Matius 9:36)

Betapa menderitanya domba yang tak bergembala, ia pasti kelaparan dan kehausan karena kekurangan makanan dan air;  pastilah ia dalam bahaya jika ada binatang buas hendak menerkamnya, karena tak ada pembela yang melindunginya. Demikian juga jiwa manusia akan tersesat jika mereka terpisah dari 'Gembala yang baik'. Di dunia ini manusia takkan menemukan kasih seperti kasih Tuhan karena manusia umumnya egois dan tidak peduli terhadap sesama.

Di dalam dunia ini, banyak orang kaya yang "lelah dan terlantar", demikian juga dengan orang miskin, ganteng, cantik, jelek, terhormat, terhina, tuan, budak, dan banyak golongan manusia lainnya dari berbagai suku dan bangsa. Jika mereka semua belum mengenal Yesus, hidup mereka pasti "lelah dan terlantar" karena tak ada gembala yang mengarahkan hidup mereka kepada jalan ke surga (kehidupan kekal) melainkan ke neraka (kematian kekal).

Mungkin orang tersebut adalah salah satu dari keluarga Anda sendiri, tetangga atau teman Anda. Maukah Anda berkorban waktu, tenaga dan materi untuk mengabarkan Injil kepada mereka sehingga mereka diselamatkan?

Baca dan renungkanlah Matius 9:35-38.
1. Apakah yang menggerakkan hati Tuhan? (ayat 36)
2. Orang-orang seperti apakah yang menggerakkan belas kasihan Tuhan? (ayat 36)
3. Menurut Anda, siapakah pekerja-pekerja yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus, yang seharusnya bekerja untuk menuai jiwa-jiwa bagi kerajaan Surga? (ayat 37)


SHARED BY
Al.Kira


Source:
AOC - JAKARTA

Monday, June 27, 2011

Bahan Saat Teduh 27June2011

“Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.” (Markus 6:34)

Belas kasihan adalah kemampuan untuk merasakan kebutuhan orang lain, diikuti dengan tindakan menjawab kebutuhan tersebut. Tuhan Yesus memiliki hati yang penuh belas kasihan dan komitmen yang kuat untuk bertindak. Tuhan Yesus melatih murid-murid-Nya untuk memiliki belas kasihan terhadap orang lain sekalipun para murid sedang dalam keadaan yang letih, sekalipun mereka sendiri sedang punya masalah.

Seringkali ketika kita sendiri mempunyai kebutuhan, Tuhan menyuruh kita untuk terlebih dahulu menjawab kebutuhan orang lain dengan memberi kepada mereka. Ketika kita taat, tidak fokus pada masalah kita sendiri namun mulai bertindak untuk menjawab kebutuhan orang lain dengan cara meminta mata dan hati seperti Tuhan Yesus maka kita akan melihat keajaiban pemeliharaan Tuhan terhadap kita.

Belas kasihan harus selalu dinyatakan. Jika tidak, maka hati kita akan menjadi dingin, tidak peka dan tidak peduli terhadap jiwa-jiwa. Salah satu alasan Tuhan memanggil dan memilih kita adalah untuk memakai kita untuk melayani orang lain, keluarga, bahkan orang-orang baru, agar mereka mengenal kasih Tuhan.

Baca dan renungkanlah Markus 6:30-44.
1. Murid-murid Tuhan baru saja kembali dari pelayanan yang meletihkan. Bagaimanakah Tuhan Yesus menunjukkan kepedulian-Nya terhadap kebutuhan murid-murid yang  sangat dikasihi-Nya? (ayat 30-32)
2. Kemudian orang-orang lain datang berbondong-bondong minta dilayani. Apakah yang menggerakkan belas kasihan Tuhan Yesus? (ayat 34)
3. Murid-murid Tuhan Yesus kurang memiliki rasa belas kasihan terhadap jiwa-jiwa yang membutuhkan Tuhan. Faktor apakah yang menghalangi mereka untuk melayani? (ayat 35-37)


SHARED BY
Al.Kira


Source:
AOC - JAKARTA

Sunday, June 26, 2011

Bahan Saat Teduh 26June2011

"Selamat Pagi.”
“Saya mendengar tentang pekerjaan baik yang Anda lakukan kemarin.”
“Well Done." 

Ungkapan-ungkapan seperti itu adalah ungkapan yang patut untuk diucapkan oleh orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Ada suatu studi yang menyimpulkan bahwa lidah adalah otot terkuat yang ada dalam tubuh kita.

Tuhan memberikan kepada Anda suatu kesempatan untuk membangun kehidupan orang-orang di sekitar Anda dengan kata-kata yang Anda ucapkan ke dalam kehidupan mereka. Dengan otoritas yang ada melalui kuasa Roh Kudus di dalam kehidupan Anda, maka di dalam perkataan Anda terdapat suatu kuasa yang dapat membangkitkan jiwa yang sedang melemah. Pandanglah sekeliling Anda dan carilah jiwa jiwa yang lemah, bangkitkanlah mereka dengan ucapan Anda yang membangun imannya.

Pertanyaan
1.Bagaimanakah seharusnya kata-kata kita? (Mazmur 45:2)

2.Seperti apakah perkataan yang positif itu? (Amsal 19:24)

3.Mulai hari ini, bangunlah kebiasaan mengucapkan kata-kata yang positif, mulailah dengan mengucapkan sesuatu yang positif dan membangun terhadap keluarga Anda (Suami/istri, anak, orang tua dll) lalu lanjutkan terhadap setiap orang yang Anda jumpai hari ini.


SHARED BY
Al.Kira

Source:
AOC - JAKARTA

Saturday, June 25, 2011

Bahan Saat Teduh 25June2011

"Ibadah  yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia." (Yakobus 1:27)

Apa yang terlintas di pikiran Anda ketika kita mendengar kata “ibadah”? Apakah mengangkat tangan, bernyanyi menyembah Tuhan, membawa uang persembahan, dan sebagainya? Yakobus mengajak kita melihat satu kebenaran dari perspektif yang berbeda. Tentunya menyanyikan penyembahan kepada Tuhan adalah baik adanya.

Tetapi Firman Tuhan di Yakobus mengajak kita untuk beribadah dengan cara yang lain. Yaitu, beribadah kepada Tuhan dengan melayani yang berkekurangan. Mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka. Dan, tentunya menjaga diri kita agar tidak cemar oleh dunia ini. 

Baca dan renungkanlah Yakobus 1:26-27
1.Apakah yang membuat ibadah seseorang menjadi sia-sia? (ayat 26)

2.Ibadah seperti apakah yang Allah harapkan? (ayat 27)

3.Apakah yang Anda ingin lakukan untuk mereka yang berkekurangan?


SHARED BY
Al.Kira

Source:
AOC - JAKARTA

Friday, June 24, 2011

Bahan Saat Teduh 24June2011

"Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka." (Kejadian 1:27)

Manusia tersebar ke dalam berbagai bangsa, kota, etnik, dan sebagainya. Ketika Tuhan melakukan penciptaan, Tuhan menciptakan Manusia: laki dan perempuan. Perbedaan yang dibuat hanyalah ada kaum adam dan ada kaum hawa, dan keduanya diciptakan sama seturut gambar rupa Allah.

Tuhan melihat umat manusia dengan cara yang berbeda dengan cara manusia memandang sesamanya. Manusia sering mengklasifikasi dengan jumlah kekayaan, kepintaran, dan sebagainya. Tuhan tidak membagi manusia dengan hal demikian. Tuhan mempunyai dua pembagian yang sering kali digunakan, yaitu orang yang takut kepada Tuhan dan orang yang tidak mempedulikan keberadaan Tuhan. Marilah kita mulai mengunakan cara yang Tuhan gunakan dan tidak membeda-bedakan satu manusia dengan manusia yang lainnya. manusia melihat apa yang di luar, tapi Tuhan melihat kepada hati.

Baca dan renungkanlah Roma 10:12
1.Menurut Alkitab, adakah perbedaan suku? Apakah Tuhan membedakan suku?

2.Standar apa yang Anda sering gunakan untuk mengklasifikasi manusia yang ada di sekitar Anda?

3.Dengan cara apakah Tuhan melihat dan mengukur manusia?


SHARED BY
Al.Kira


Source:
AOC - JAKARTA

Thursday, June 23, 2011

Pilih Kasih.....

Menjadi orang yang dijadikan nomor dua atau tiga dalam sebuah keluarga bukanlah sesuatu yang mengenakkan. Akibat hal ini juga, banyak anak yang akhirnya terluka atas perbuatan yang dilakukan oleh orang tuanya. Tidak hanya di rumah, di dalam perusahaan pun hal ini sering ditemui sehingga muncullah sebutan "anak emas bos" bagi mereka yang selalu mendapat perlakuan khusus dari atasannya.

Bagi mereka yang di-anakemas- kan, tentulah senang dengan perilaku yang diberikan oleh para pemimpinnya, tetapi bagi mereka yang tidak, kekecewaan dan kebencian tumbuh menyatu menjadi satu. Sadar atau tidak, pandangan kita terhadap Allah pun seperti itu. Kita menganggap bahwa ketika seseorang mendapat berkat yang luar biasa melimpah dan kita belum mendapatkannya maka kita akan menuduh-Nya sebagai Allah yang pilih kasih.

Dalam Ke-MahaBesar-an-Nya, Allah memiliki wewenang menganugerahkan kasih dan kuasa-Nya kepada siapa ia ingin memberikannya. Hal ini bukan berarti Dia menganggap seseorang tidak berharga dan yang lain begitu tinggi derajat di mata-Nya. Dia memiliki rahasia tersendiri untuk memberkati satu persatu umat-Nya dan kita tidak perlu menanyakannya. Percaya saja, Allah telah menyiapkan berkat yang terbaik dan Dia akan mencurahkan sesuai dengan waktu yang dirancang-Nya.

Mungkin hari ini ada diantara Anda yang sudah berpaling dari Allah karena suatu peristiwa yang Anda anggap tidak harus Anda alami. Allah tidak pernah pilih kasih dan kalau pun ada kejadian yang membuat Anda begitu sedih dan kecewa lihatlah ada maksud-Nya yang besar dan mulia dibalik semua itu.

Allah mengasihi anak-anakNya dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapan pun dan oleh apa pun juga.


SHARED BY
Pida Klose

Bahan Saat Teduh 23June2011

“Karena Firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan Firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam Firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” (Roma 13:9)

Firman Tuhan mengajarkan agar kita tidak mengingini kepunyaan orang lain. Terkadang sulit untuk menjaga rasa ingin. Seperti ada pepatah yang menyatakan "rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau".  Kehendak Tuhan adalah kita mengingini Tuhan dan tidak berkonsentrasi kepada apa yang menjadi kepemilikan orang lain.

Mungkin, Tuhan mempercayakan kepada Anda mobil yang lebih sederhana atau rumah yang lebih sederhana. Mensyukuri apa yang ada, memberikan kita rasa cukup. Bahkan, "ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar." (I Timotius 6:6). Ibadah kita kepada Tuhan menjadi lebih menguntungkan jika kita juga memiliki rasa cukup.

Baca dan renungkanlah ayat-ayat di bawah ini.
1.Keinginan-keinginan apa yang ada dalam hati Anda?

2.Apakah saya sering mengingini barang kepunyaan orang lain?

3.Apa perintah Tuhan kepada kita? (Keluaran 20:17)

4.Apa menandakan bahwa seseorang masih manusia duniawi? (1 Korintus 3:3)

5.Apa yang akan diakibatkan apabila seseorang hidup dalam iri hati? (Yakobus 3:16)


SHARED BY
Al.Kira

Source:
AOC - JAKARTA

Wednesday, June 22, 2011

Bahan Saat Teduh 22June2011

“Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.” Amsal 15:33

Salah satu tanda dari kesombongan di hadapan Tuhan adalah merasa bahwa dirinya tidak terlalu membutuhkan Tuhan. Bahkan banyak manusia berdoa untuk mukjizat pertolongan Tuhan dan kemudian menjadi arogan terhadap Tuhan yang memberikan pertolongan itu sendiri. Contohnya, pekerjaan yang eksklusif, rumah yang mewah dan mobil yang baru bisa membuat kita lupa diri.

Firman Tuhan melalui Amsal mengingatkan kita bahwa kerendahan hati mendahului kehormatan. Sehingga, jika Tuhan bisa menghargai diri kita, kerendahan hati harus dijaga dengan seksama. Bahkan di dalam kehidupan ini, Tuhan memberikan suatu peringatan keras bahwa kesombongan mendahului kejatuhan/kehancuran. Marilah kita mengingat kedudukan kita sebagai manusia yang terbatas sehingga kita senantiasa membutuhkan Tuhan.

Baca dan renungkanlah ayat-ayat di bawah ini.
1.Seperti apakah bagi Tuhan orang yang tinggi hati? (Amsal 16:5)

2.Apakah upah bagi kesombongan dan kerendahan hati? (Amsal 18:12)

3.Bagaimanakah seharusnya sikap kita? (I Timotius  6:17)


SHARED BY
Al.Kira

Source:
AOC - JAKARTA

Bahan Saat Teduh 21June2011

"Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.” (Lukas 5:15-16)

Yesus sering menarik diri dari kerumunan untuk berdoa. Kita diberikan suatu model berdoa yang sangat indah oleh Tuhan kita, Yesus Kristus. Kata kerumunan menunjukkan suatu suasana yang ramai, berisik dan bahkan bisa terasa menyesakkan. Tuhan Yesus memberikan jawaban bagi saudara yang merasakan bahwa kehidupan saudara terasa ramai, berisik dan menyesakkan.

Tuhan memberikan contoh agar kita mencari suatu tempat yang damai, bukan hanya untuk kegiatan yang bersifat menenangkan jasmani melainkan memberi ketenangan kepada jiwa kita. Karena Tuhan Yesus sendiri berdoa, tentu kita lebih memerlukannya. Tempat-tempat yang sunyi bukanlah harus jauh dari tempat tinggal kita, melainkan suatu tempat di mana kia bisa berkonsentrasi kepada Tuhan.

Baca dan renungkanlah Lukas 8:1-8.
1.Bagaimana kita harus berdoa? (ayat 1)

2.Apa yang akan dilakukan Tuhan kepada orang yang berdoa kepada-Nya? (ayat 7)

3.Apa solusi dari kehidupan Anda yang mungkin terkadang terasa sesak?( Lukas 5:16)

4.Apakah Anda mempunyai waktu khusus untuk menyendiri dan berdoa?


SHARED BY
Al.Kira


Source:
AOC - JAKARTA

Monday, June 20, 2011

Bahan Saat Teduh 20June2011

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.” (Roma 12:2)

Setiap hari, manusia membuat pilihan yang beragam. Mulai dari baju warna apa, sarapan apa hingga kegiatan yang akan dilaksanakan setiap harinya. Ada pilihan yang kita lakukan dengan serius, ada yang dilakukan secara enteng. Tuhan memberikan pengarahan untuk menolong kita membuat pilihan.

Firman Tuhan memberikan pengertian bahwa ada pilihan yang baik, berkenan dan sempurna. Dan, kita diminta bisa membedakannya. Pimpinan Tuhan memberikan kita kekuatan untuk bisa mengerti pilihan tersebut dan membedakannya. Saya mempunyai keyakinan bahwa dalam hati manusia terdapat kerinduan untuk dapat memiliki kepastian saat membuat pilihan. Milikilah kepastian itu.

Baca dan renungkanlah:
1.Apakah yang dihasilkan jika pimpinan Tuhan nyata dalam kehidupan Anda? (Roma 12:2)

2.Apakah Anda memulai hari Anda dengan meminta pimpinan Tuhan?


SHARED BY
Al.Kira


Source:
AOC - JAKARTA

Bahan Saat Teduh 19June2011

“Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu.“ (Amsal 3:9)

Bagaimana kita memuliakan Tuhan dengan harta kita? Alkitab mengajarkan kita untuk memberikan perpuluhan (sepersepuluh dari penghasilan kita). Bila kita mengasihi Tuhan, kita juga akan memperhatikan pekerjaan Tuhan di dunia ini.

Banyak orang yang jatuh ke dalam dosa karena uang. Mencintai uang adalah akar dari segala kejahatan. Kita perlu belajar untuk mengasihi Tuhan dan sesama lebih daripada uang.
Kita juga memuliakan Tuhan dengan harta kita bila kita menolong dan memberi sesama kita yang dalam kebutuhan. Ada pepatah: ”Money is loke manure. When you stack it, it stinks. When you spread it, it grows.” (“Uang itu seperti pupuk. Bila Anda menimbunnya, akan berbau busuk. Bila Anda menyebarnya, itu akan tumbuh.”)

Kita memuliakan Tuhan bila kita mampu mengatur keuangan kita dengan bijaksana. Prinsip yang utama yaitu pengeluaran kita tidak boleh melebihi pendapatan kita. Bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Banyak orang yang masuk dalam perangkap hutang karena tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan hatinya.

 Baca dan renungkanlah I Timotius 6:6-10.
1. Siapakah yang jatuh ke dalam pencobaan? (ayat 9)

2. Apakah akar dari segala kejahatan? (ayat 10)

3. Dengan apakah kita dapat memuliakan Tuhan? (Amsal 3:9)

4. Apa janji Tuhan apabila kita memuliakan Dia? (Amsal 3:10)


SHARED BY
Al.Kira


Source:
AOC - JAKARTA

Saturday, June 18, 2011

One of Christ's History Maker


Hope this video can bless you all and learn to be Christ's History Maker

Jesus Bless You

Bahan Saat Teduh 18June2011

“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” (Matius 5:7)

Orang yang murah hati adalah orang yang suka memberi. Orang yang murah hati bukanlah orang yang boros, tetapi ia murah hati dan penuh belas kasihan terhadap sesama.

Murah hati tidak hanya menyenangkan bagi yang menerima, tetapi terlebih menyenangkan  bagi yang memberi. Orang yang menerima pemberian akan tersentuh hatinya dan merasa senang. Demikian juga dengan si pemberi, ia merasa senang karena dapat melihat orang lain menjadi senang. Pemberi juga bebas karena hidupnya tidak di kontrol oleh harta miliknya tetapi sebaliknya ia dapat mengontrol hartanya dan menjadikannya alat untuk memberkati orang lain.

Murah hati adalah sifat yang sangat menarik. Murah hati adalah tanda kedewasaan rohani. Orang yang murah hati adalah orang yang tidak mementingkan dirinya sendiri tetapi ia mampu memperhatikan kebutuhan orang lain dan bahkan berkorban untuk kepentingan orang lain. Murah hati adalah salah satu sifat Allah. Ia memberikan anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa kita semua.

Baca dan renungkan ayat-ayat di bawah ini.
1. Berkat apakah yang didapat oleh orang yang murah hatinya? (Matius 5:7)

2. Tujuan kesempurnaan kita adalah keserupaan dengan Bapa. Mengapa kita haru bermurah hati? (Lukas 5:36)

3. Kalau kita bermurah hati, maka bukan kita bukan hanya berbuat baik kepada orang lain, tetapi juga berbuat baik kepada siapa? (Amsal 11:17)

4. Marilah kita saling berbuat baik dengan murah hati.


SHARED BY
Al.Kira

Source:
AOC JAKARTA

Friday, June 17, 2011

Bahan Saat Teduh 17June2011

"Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." (Matius 7:11).

Seorang wanita menelpon Butterball Turkey Company untuk bertanya: “Apakah baik untuk memakan kalkun yang telah dibekukan selama 25 tahun?”
Seorang pria dari perusahaan itu berkata bahwa kalau kalkun itu belum pernah dikeluarkan dari freezer dan di-defrost (dilunakkan dari keadaan beku), maka hal itu tidak akan berbahaya. Lalu ia menambahkan: “Tapi, saya tidak bisa membayangkan apakah kalkun yang sudah 25 tahun itu masih enak?” Wanita itu lalu berkata: “Well, saya juga berpikir demikian. Saya akan menyumbangkannya saja untuk gereja.”

Memberi tanpa pengorbanan adalah hal yang mudah. Allah Bapa sudah mengorbankan anak-Nya untuk kita, dan itu yang terbaik yang Ia milki. Berkorban itu ibarat “memotong” dan “memberi” bagian tubuh atau hidup sendiri. Jumlah yang kita potong dan beri itu bisa saja hanya sepersepuluh atau bahkan lebih, namun harus terasa “sakit” atau pengaruhnya bagi Anda yang memberikannya.  Oleh karena itu, kita memberi persembahan yang terbaik tidak hanya sewaktu kaya namun juga saat miskin.

Baca dan renungkanlah Filipi 4:13-20.
1. Apa pujian Paulus terhadap jemaat di Filipi? (ayat 15)
2. Bagaimana persiapan kita untuk memberi baik untuk Tuhan dan sesama? (ayat 18)
3. Bagaimana seharusnya persiapan untuk memberi yang terbaik? (Matius 5:7).


SHARED BY
Al.Kira

Source:
AOC - JAKARTA

Thursday, June 16, 2011

Bahan Saat Teduh 16June2011

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. “(II Korintus 9:7)

Ada cerita tentang satu keluarga yang baru pulang dari gereja. Di tengah jalan, sang ayah mulai mengeluh tentang segala sesuatu dalam kebaktian tersebut. Musiknya terlalu keras. Ia tidak suka lagu-lagu yang dinyanyikan. Ia tidak suka dengan khotbah yang disampaikan. Ia terus-menerus mengeluh sampai anak laki-lakinya yang masih kecil berkata: “Well Dad, you have to admit that it wasn’t a bad show for only a dollar.” (“Baiklah, Ayah harus mengakui bahwa itu tadi bukanlah satu pertunjukan yang buruk untuk uang satu dolar.”)

SESEORANG DAPAT MEMBERI TANPA KASIH, TETAPI IA TIDAK DAPAT MENGASIHI TANPA MEMBERI
Firman Tuhan mengajarkan kita semua untuk memberi dengan suka-cita dan suka-rela. Memberi adalah tanda kasih yang utama. Bila kita mengasihi seseorang, kita pasti ingin memberi dan menyenangkan orang yang kita kasihi.

Baca dan renungkanlah II Korintus 9:6-12.
1. Apakah prinsip dari menabur dan memberi? (ayat 6)
2. Bagaimanakah seharusnya sikap kita dalam memberi? (ayat 7)
3. Apakah kita akan berkekurangan jika memberi? (ayat 8-10)
4. Milikilah kemurahan hati dan mulailah memberi dengan kerelaan.


SHARED BY
Al.Kira


Source:
AOC - JAKARTA

Wednesday, June 15, 2011

Bahan Saat Teduh 15June2011

“Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.” (Amsal 11:24)

Ada orang yang dengan berbagai alasan tidak mau memberi persembahan persepuluhan sebagaimana yang diamanatkan oleh firman Tuhan. Ada yang takut persembahannya di selewengkan oleh pengurus, ada yang merasa tidak mampu dan selalu merasa kurang, ada juga yang berpendapat bahwa persembahan persepuluhan sudah tidak berlaku lagi karena mengira persepuluhan adalah berasal dari Hukum Taurat.

Persepuluhan sudah dipraktekkan oleh Abraham sebelum adanya Hukum Taurat. Bukanlah kita adalah bagian dari bangsa-bangsa yang menerima berkat Allah sesuai Injil kepada Abraham? (Galatia 3:8).

Adalagi  yang bertanya jika harus memberi persepuluhan, kemanakah kita harus memberinya? Perintah persepuluhan yang jelas ada di dalam Maleakhi 3:10. Pada masa itu, bait Allah hanya ada satu, sehingga bangsa Israel tidak mengalami kebingungan mengenai rumah Tuhan. Bagaimana dengan saat ini? Menurut hemat saya, kita harus memberi ke gereja lokal di mana kita dilayani dan dipelihara secara rohani.

Baca dan renungkanlah Kejadian 14:18-20
1. Siapakah Melkisedek? (ayat 18)
2. Apakah yang dilakukan oleh Melkisedek kepada Abraham? (ayat 19)
3. Lalu apa yang dilakukan oleh Abraham? (ayat 20)
4. Mengapa Tuhan menuduh manusia menipu Dia? (Maleakhi 3:8)
5. Apakah janji Tuhan bagi yang taat? (Maleakhi 3:10-12)


SHARED BY
Al.Kira

Source:
AOC - JAKARTA

Tuesday, June 14, 2011

Bahan Saat Teduh 14June2011

“Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” (Amsal 16:2)

Memberi adalah urusan hati dan bukan jumlah. Karena memang Tuhan melihat kepada motivasi manusia. Ada seorang sahabat yang setia dalam memberi, baik itu persepuluhan, kolekte maupun memberi persembahan bagi para pendeta. Namun, motivasinya salah.

Sahabat saya ini mengharapkan bahwa Tuhan akan memberkatinya 30 kali, 70 kali sampai 100 kali lipat. Jika dia memberi satu juta rupiah, di dalam hatinya dia berkata: “Masak Tuhan tidak mengembalikan tiga puluh juta rupiah!”  Di sisi yang lain, sahabat saya ini juga takut bahwa usahanya akan mengalami kesusahan jika dia lalai dalam memberi persembahan. Alih-alih diberkati, sahabat saya ini terlibat hutang karena tertipu oleh sebuah sindikat penipuan.

Jangan memberi karena dilandasi rasa takut, karena Tuhan bukan juru tagih yang seram dan galak. Dia Bapa kita yang baik dan bukan preman. Juga jangan memberi seperti memberi sesajen kepada berhala yang bisa memberi penglaris. Dia bukan jin. Tuhan adalah Allah yang berdaulat dan berkuasa. Berilah karena kita mengasihi Dia.

Baca dan renungkanlah Lukas 7:1-10
1. Apakah yang membuat Tuhan Yesus mau mengunjungi rumah sang perwira? (ayat 4-5)

2. Apakah berkat yang Tuhan Yesus berikan kepada sang perwira di dalam kisah ini?

3. Apa komitmen Anda setelah membaca dan merenungkan bahan SPF hari ini?


SHARED BY
Al.Kira


Source:
AOC - JAKARTA

Monday, June 13, 2011

Bahan Saat Teduh 13June2011

“Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi  lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.” (Markus 12:43)

Suatu hari, ada seorang pendeta yang memiliki uang tinggal lima ribu rupiah, sementara ia harus menghadiri sebuah kebaktian doa dan ada sesi memberi persembahan. Pendeta ini menukarkan uangnya menjadi 2 bagian masing-masing 2.500 rupiah, untuk persembahan dan untuk ongkos anaknya sekolah. Namun, dikebaktian doa tersebut, Tuhan menggerakkannya untuk mempersembahkan seluruh uangnya, pendeta ini taat dan memasukkan seluruh uangnya ke kantung persembahan.

Tuhan melihat ketulusan hati si pemberi daripada jumlah pemberiannya. Memberi adalah urusan hati dan bukan jumlah. Jika Anda mampu memberi lebih, mengapa memberi sedikit? Mengapa menyia-nyiakan kesempatan untuk memberi? Contohlah kehidupan janda miskin ini, dia memberi dengan hatinya, dia memberi sebagai wujud dia mengasihi Tuhan, sehingga dia tidak pelit-pelit, dia berikan seluruh miliknya dan Tuhan sangat mengapresiasi persembahannya. Saya percaya dia tidak mati kelaparan, karena Tuhan senantiasa memelihara dan memberkati hidupnya. Selamat memberi!

Baca dan renungkanlah Markus 12:41-44
1. Memberi adalah masalah hati dan bukan masalah mampu atau tidak.

2. Pelajaran rohani apa yang Anda bisa ambil melalui kisah Persembahan seorang janda miskin ini?

3. Bagaimana sikap hati janda miskin ini ketika memberi? (Ayat 42-44)

4. Bagaimana seharusnya sikap Anda di dalam memberi?

5. Sudahkan memberi menjadi gaya hidup Anda?


SHARED BY
Al.Kira

Source:
AOC - JAKARTA

Bahan Saat Teduh 12June2011

“Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat”  (I Yoh 5:3)

Teman saya dahulu adalah seorang perokok dan dia mengalami kesulitan untuk berhenti merokok. Berbagai upaya telah dia lakukan. Dari menggantikannya dengan permen, mengunyah permen karet sampai tidak membeli rokok. Tetapi dia tidak tahan dan tergoda merokok kembali. Suatu hari dia menyukai seorang wanita dan teman saya dengan gencarnya melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan hatinya. Akhirnya wanita ini mau menjadi pacarnya dengan satu syarat bahwa dia harus berhenti merokok. Aneh bin ajaib ternyata teman saya bisa berhenti total merokok. Itulah kekuatan kasih. Kekuatan kasih sanggup mengubah seseorang, mampu mengubah kebiasaan buruk menjadi baik.

Perintah-perintah Tuhan dapat menjadi berat jika kita hanya menjalankan perintah-perintah itu sebagai kewajiban agama, rutinitas, dan menggunakan kekuatan kita sendiri. Sesungguhnya perintah Tuhan itu ringan jika kita tetap mengingat kekristenan adalah hubungan dalam kasih Allah. Inilah yang disebut kekuatan kasih (power of love). Lakukanlah segala sesuatu karena kita mengasihi Dia, dengan demikian semuanya akan menjadi mudah.

Baca dan renungkanlah I Yoh 5:1-21
1. Apakah tandanya kita mengasihi anak-anak Allah? (ayat 2)

2. Apakah tanda kasih kita kepada Allah? (ayat 3)

3. Siapa yang mengalahkan dunia? (ayat 4-5)

4. Siapakah yang memiliki hidup yang kekal? (ayat 12-13)

5. Bagaimana supaya doa kita terkabul? (ayat 14)


SHARED BY
Al.Kira

Source:
AOC - JAKARTA

Bahan Saat Teduh 11June2011

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”  (I Yoh 4:19)

Betapa besar cinta seorang ibu yang sudah mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membesarkan, dan mendidik anaknya. Tetapi, belum tentu anak itu tahu berterima kasih dan membalas segala kebaikan ibunya. Begitu banyak anak yang tumbuh menjadi anak yang nakal dan menyusahkan orang tua. Meskipun demikian, kasih ibu akan tetap memancar, tak menuntut balasan apa-apa selain ingin mencintai buah hatinya. Demikianlah Allah mengasihi manusia sampai Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup kekal.

Allah adalah kasih, dan kasih Allah dinyatakan ketika kita saling mengasihi. Kita mengasihi karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita. Kasihilah orang yang dahulu sempat kita benci dan kasihilah orang yang membenci kita. Jadikan dunia ini dipenuhi dengan virus kasih sehingga semua orang di dunia bisa mengenal kasih yang sejati. Kasih Allah sudah ada dalam hidup kita, tinggal kita alirkan lewat senyuman, perkataan, pikiran, tindakan dan hidup kita. Jadilah penebar virus kasih.

Baca dan renungkanlah I Yoh 4:1-21
1. Apakah kasih itu? (ayat 10)

2. Apa yang harus kita lakukan? (ayat 11-12, 20)

3. Bagaimana caranya supaya kita tetap berada dalam Allah? (ayat 16)

4. Kenapa kita mengasihi? (ayat 19)


SHARED BY
Al.Kira


Source:
AOC - JAKARTA

Friday, June 10, 2011

Bahan Saat Teduh 10June2011

“Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.”  (1 Yoh 3:18)

Suatu hari, seorang aktivis sebuah gereja diminta bantuan oleh anak yatim piatu yang tidak punya tempat berteduh. Karena sangat sibuk dan tak berdaya untuk membantu, aktivis itu berjanji akan mendoakan anak tersebut. Beberapa saat kemudian anak itu menulis puisi seperti ini:

Saya kelaparan …dan Anda membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparan saya
Saya telanjang …dan Anda mempertanyakan dalam hati kelayakan penampilan saya
Saya sakit …dan Anda berlutut menaikkan syukur kepada Allah atas kesehatan Anda
Saya tidak punya tempat berteduh …dan Anda berdoa pada Tuhan agar saya diberkati
Saya kesepian …dan Anda meninggalkan saya sendirian untuk berdoa
Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah tetapi saya tetap amat lapar, kesepian, dan kedinginan …

Baca dan renungkanlah I Yoh 3:11-24
1. Apa perintah Tuhan bagi kita? (ayat 11, 23)

2. Diumpamakan seperti apakah orang yang membenci saudaranya? (ayat 15)

3. Apa yang harus kita teladani dari hidup Kristus? (ayat 16)

4. Dengan apakah kita mengasihi? (ayat 18)

5. Rencanakanlah sebuah atau beberapa tindakan kasih kepada orang-orang yang kurang beruntung


SHARED BY
Al.Kira

Source:
AOC - JAKARTA

Thursday, June 9, 2011

Apakah Engkau Yesus?

Beberapa tahun yang lalu, sekelompok salesmen menghadiri pertemuan sales di Chicago. Mereka telah meyakinkan istri-istri mereka bahwa mereka akan mempunyai cukup waktu untuk makan malam bersama di rumah pada hari Jumat.

Namun, manager sales menghabiskan lebih banyak waktu daripada yang telah diperkirakan dan pertemuan berakhir lebih lambat daripada yang telah dijadwalkan.

Akibatnya, dengan tiket pesawat dan tas mereka ditangan, mereka berlari menerobos pintu airport, tergesa-gesa, mengejar penerbangan mereka pulang. Ketika mereka sedang berlari-lari, salah satu dari para salesman ini tidak sengaja menendang sebuah meja yang digunakan untuk menjual apel. Dan apel-apel itu beterbangan.

Tanpa berhenti atau menoleh ke belakang, mereka semua akhirnya berhasil masuk ke dalam pesawat dalam detik-dekik terakhir pesawat itu tinggal landas. Semua, kecuali satu. Dia berhenti, menghela napas panjang, bergumul dengan perasaannya lalu tiba-tiba rasa kasihan menyelimuti dirinya untuk gadis yang menjual apel. Ia berkata kepada rekan-rekannya untuk pergi tanpa dirinya, melambaikan tangan, meminta salah satu temannya untuk menelpon istrinya ketika mereka sampai di tempat tujuan untuk memberitahukan bahwa ia akan mengambil penerbangan yang berikutnya. Kemudian, ia kembali ke pintu terminal yang berceceran dengan banyak sekali buah apel di lantai.

Salesman ini merasa lega ketika ia tiba disana. Gadis yang berumur 16 tahun ini buta! Gadis tersebut sedang menangis sesegukan, air matanya mengalir turun di pipinya, dan gadis itu sedang berusaha untuk meraih buah-buah apel yang bertebaran di antara kerumunan orang-orang yang bersliweran di sekitarnya, tanpa seorang pun berhenti, atau pun cukup peduli untuk membantunya.

Salesman itu berlutut di lantai di sampingnya, mengumpulkan apel-apel tersebut, menaruhnya kembali ke dalam keranjang dan membantu memajangnya di meja seperti semula. Seketika itu, ia menyadari bahwa banyak dari apel-apel itu rusak, dan ia mengesampingkan apel yang rusak ke dalam keranjang yang lain. Setelah selesai, pria ini mengeluarkan uang dari dompetnya dan berkata kepada si gadis penjual, "Ini, ambillah $20 untuk semua kerusakan ini. Apakah kau tidak apa-apa?"

Gadis itu mengangguk, masih berlinang air mata. Pria itu melanjutkan dengan, "Saya harap kita tidak merusak harimu begitu parah." Ketika pria ini mulai beranjak pergi, gadis penjual yang buta ini memanggilnya, "Tuan..." Pria ini berhenti, dan menoleh ke belakang untuk menatap kedua matanya yang buta. Gadis ini melanjutkan, "Apakah engkau Yesus?"

Ia terpana. Kemudian, dengan langkah yang lambat ia berjalan masuk untuk mengejar penerbangan berikutnya. Dan pertanyaan itu terus menerus berbicara di dalam hatinya, "Apakah kau Yesus?"

Apakah orang-orang mengira engkau Yesus? Bukankah itu tujuan hidup kita? Untuk menjadi serupa dengan Yesus sehingga orang-orang tidak dapat melihat perbedaannya ketika kita hidup dan berinteraksi di dalam dunia yang buta dan tidak mampu melihat kasih,anugrah dan kehidupanNya. Jika kita mengakui bahwa kita mengenal Dia, kita harus hidup, berjalan, dan bertindak seperti Yesus. Mengenal Yesus adalah lebih dalam daripada hanya sekedar mengutip kata-kata dari Alkitab dan pergi beribadah di gereja.

Mengenal Yesus adalah menghidupi FirmanNya hari demi hari. Anda adalah seperti buah apel tersebut di mata Allah meskipun kita rusak dan menjadi cacat ketika kita terjatuh. Allah berhenti mengerjakan apa yang sedang Ia kerjakan, mengangkat Anda dan saya ke suatu bukit yang bernama Kalvari dan membayar penuh semua kerusakan kita. Mari mulai jalani hidup sesuai dengan harga yang telah dibayarkanNya.


SHARED BY
Al.Kira

Fasting in Christianity

Some people got ask "do Christian need to fast like the muslim do?"
The answer is yes... Christian also do fasting. Fasting in Christianity is a time honored Christian ritual. Sometimes they voluntary sacrifice of food and sometimes they do both food and drink. The different between the Christianity fasting and muslim fasting is Christian can fast by sacrificing the things that make the flesh comfort, maybe facebook, game etc.

But is there any purpose for the Christianity to do fasting and how do the Christianity make a decision to fast?
There are many reasons given in the Bible for fasting. The fasting itself is an act of sacrifice and when we fast and experience hunger, we are reminded of God and His sacrifice for us. While fasting denies the flesh comfort, it feeds the spirit strength. Fasts are voluntary, part of religious tradition or done in obedience to God. When you decide to fast, be clear with yourself and with God about why you are fasting, how long you will fast and use the time normally spent preparing and eating food to deepen your relationship with God. The fast should serve a purpose; there should be a significant reason for it.

Bereavement was once a common reason for fasting, though it is not so much anymore. The fasting may have been incidental in some cases but was often a way to feel closer to God during a particularly difficult time. "And it came to pass, when I heard these words, that I sat down and wept, and mourned certain days, and fasted, and prayed before the God of heaven" (Nehemiah 1:4)

Distressing or difficult times are reasons for fasting. Fasting is a way of communicating feelings of fear, anxiety, distress or grief to God. Self-denial is one way of expressing genuineness or sincerity. It's also a way of making a spiritual contribution to relieving the situation, a way of showing God a willingness to do our part and asking Him to make up the difference. (See Esther 4:3) Fasting is sometimes used as a sacrifice when asking God to intervene in a situation. "But as for me, when they were sick, my clothing was sackcloth: I humbled my soul with fasting; and my prayer returned into mine own bosom." (Psalms 35:13)

Fasting can also be a way of expressing sorrow or regret for sin. God doesn't ask us for this sacrifice but He is pleased by it. "And they gathered together to Mizpeh, and drew water, and poured it out before the LORD, and fasted on that day, and said there, we have sinned against the LORD"¦"(1 Samuel 7:6) When this kind of sacrifice is made as a sincere gesture of sorrow or penitence, it is accepted by God.

When Christians seek guidance from God fasting may be an action that is helpful. The idea is to use the time we spend on food to spend with God instead. It provides extra time to spend in prayer, worship and listening. It is also a way of preparing for a spiritual event or change. It's an act of submission, a way to get our desire out of the way in order to allow the spirit to work. (Acts 13:1-3)

Fasting can be a form of worship. "And she was a widow of about fourscore and four years, which departed not from the temple, but served God with fasting and prayers night and day." (Luke 2:37) Surrendering comfort as an act of worship is not necessary but it is pleasing to God if it is sincere. It is much like saying, "Thank you God for giving Your Son for me. Let me be a little uncomfortable for Your sake." Here again fasting is an act of sacrifice.

Fasting is a way of communicating emotion to God; it's a sacrifice that can be made for the sake of restoring a right relationship with God, or can be made coupled with a request for help. Fasting is a way to subdue our flesh for the sake of our spirit. Fasting must be done sincerely to be a pleasing sacrifice to God. It should be kept private; there is no need to reveal our sacrifice to anyone else unless a group is fasting together for a particular reason. Revealing an act of sacrifice is like saying, "Look how holy I am." It's spiritual arrogance.

Fasting can be used for a variety of reasons but it must be done sincerely. Choosing to fast can be a way to communicate feelings like sorrow, grief, and regret but it can also be a way of worshipping God. Fasts can be a sacrifice when we ask God for help or guidance and they can be acts of obedience when God asks us to fast. Fasts are time limited and are done for a reason; be clear about how long you will fast and why you are fasting. Whatever your reason for fasting, use the extra time to grow closer to God. He will honor your sacrifice.

So how long should the Christian need to fast?
Typically, fasts are one day in length. (Judges 20:26) Sometimes, they are three days (Esther 4:16), or even seven days; "And they took their bones, and buried them under a tree at Jabesh, and fasted seven days. (1 Samuel 31:13)

On three occasions in the Bible, people fasted for forty days. This is not a prescribed practice; these were very unusual circumstances. The first occasion was when Moses received the Ten Commandments. (Exodus 34:28) The next occasion was when Elijah encountered God before the anointing of Elisha. (1 Kings 19:8) The third occasion for such a fast was when Jesus was in the wilderness and tempted by Satan. (Matthew 4:2)


SHARED BY
Al.Kira

Belajar untuk Bersabar

Seorang anak mengeluh pada ayahnya, “Aku capek, sangat capek. Aku belajar mati-matian sedang temanku dgn enaknya menyontek. Aku mau menyontek saja!

Aku capek karena aku harus terus membantu ibu, sedang temanku punya pembantu.

Aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung.

Aku capek karena harus menjaga lidahku, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati.

Aku capek ayah, aku capek menahan diri…Mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah! ..” sang anak mulai menangis.

Sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya, ”Anakku, ayo ikut ayah”.

Mereka menyusuri jalan yg jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang.

”Ayah, mau kemana kita? Aku tidak suka jalan ini. Lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. Badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah karena banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah,” anaknya terus mengeluh.

Akhirnya mereka sampai di sebuah telaga yg sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yg cantik, dan pepohonan rindang.

“Wah… tempat apa ini ayah? Aku suka tempat ini!”

“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah”.

”Anakku, taukah kau mengapa di sini begitu sepi pdhl amat indah?”

”Itu krn org tdk mau mnyusuri jalan yg jelek, pdhal mreka tau ada telaga di sini. Mereka  hanya kurang sabar dalam menyusuri jalan ini.

”Anakku, butuh kesabaran dlm belajar, butuh kesabaran dlm bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan.”

Hidup adalah perjuangan utk mengendalikan dan mengalahkan diri. Jalani hidup penuh kesabaran.


SHARED BY
Al.Kira

Bahan Saat Teduh 09June2011

“Orang yang sudah menjadi Anak Allah, tidak terus-menerus berbuat dosa, sebab sifat Allah sendiri ada padanya. Dan karena Allah itu Bapanya, maka ia tidak dapat terus-menerus berbuat dosa.”  (I Yoh 3:9)

Chris Sands (24), seorang vokalis band mengalami cegukan selama 11 bulan tidak sembuh-sembuh, termasuk ketika ia tidur atau makan. Berbagai cara dilakukan untuk menemukan penyebab sekaligus mengobatinya, namun belum berhasil. Akhirnya, ia pun membuat blog dengan harapan ada orang yang bisa memberikan solusi untuk menolongnya.

Sejak dosa masuk ke dalam dunia, banyak hal yang berkaitan dengan dosa merupakan “penyakit” yang mustahil disembuhkan. Dosa membuat seseorang menjauh dari Allah, menyebutkan yang jahat itu baik, egois, hidup dalam kutuk, terikat kebiasaan buruk, dan berujung pada maut, membuat banyak orang putus asa karena tidak tahu bagaimana mengatasinya.

Mengenai sengat maut dan kuasa dosa, Firman Allah menegaskan, “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (I Kor 15:57). Hari  ini, jika kita sedang bergumul dengan perbuatan dosa atau kebiasaan buruk, ingatlah bahwa Kristus—Sang Penakluk Maut—ada di dalam diri kita untuk memampukan kita hidup berkemenangan.

Baca dan renungkanlah  I Yoh 3:1-10
1. Apakah status kita sebagai orang percaya saat ini? (ayat 1-2)

2. Apa yang harus dilakukan sebagai orang yang menaruh pengharapan kepada Yesus Kristus? (ayat 3)

3. Apakah definisi dosa? (ayat 4)

4. Apa ciri dari orang yang lahir dari Allah (ayat 9)


SHARED BY
Al.Kira


Source:
AOC - JAKARTA

Wednesday, June 8, 2011

Bahan Saat Teduh 08June2011

“Dan inilah yang dijanjikan Kristus sendiri kepada kita: hidup sejati dan kekal. “ (I Yoh 2:25)

Surat Yohanes Pertama ditulis oleh Rasul Yohanes kepada komunitas orang percaya yang disebutnya sebagai anak-anaknya. Kata anak mengungkapkan hubungan yang dekat. Surat ini bertujuan supaya penerima surat memiliki persekutuan yang intim dengan Bapa dan Yesus serta mengingatkan mereka agar tidak terpengaruh ajaran sesat saat itu yang menolak bahwa Kristus menjelma menjadi manusia. Walaupun pengajaran salah ini belum lama berkembang, banyak orang percaya yang mempercayainya. Dengan berani, Yohanes menantang komunitas gereja itu untuk tetap teguh dalam keyakinan iman mereka kepada pengajaran yang benar dalam Yesus Kristus.

Awalnya, golongan anti-Kristus ini sempat percaya kepada Kristus, hanya saja tidak sungguh-sungguh (ayat 19), dan akhirnya menyangkal Kristus. Apabila mereka menyangkal Kristus bagaimanakah mereka akan diselamatkan? Maka, Rasul mengingatkan jemaat supaya tetap percaya kepada Kristus, setia sampai akhir.

Demikian juga, janganlah kita mudah mengikuti ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan iman Kristen. Mari kita tetap setia kepada Tuhan, bersungguh-sungguh dalam hubungan kita dengan Tuhan.

Baca dan renungkanlah I Yoh 2:18-29
1. Apa yang menjadi tanda bahwa waktu ini adalah waktu yang terakhir? (ayat 18)

2. Siapakah Anti Kristus? (ayat 19, 22)

3. Apa yang telah dijanjikan Tuhan kepada kita (ayat 25)


SHARED BY
Al.Kira


Source:
AOC - JAKARTA

Tuesday, June 7, 2011

Bahan Saat Teduh 07June2011

“Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. “ (I Yoh 2:3)

Sulung berkata, aku yang paling besar dan mencintai mama paling lama. Anak kedua berkata, aku paling cinta mama karena di dalam keluarga aku anak perempuan satu-satunya. Anak ketiga berkata, mama, aku sangat cinta kepadamu, jika ada binatang buas yang akan mencelakai mama pasti aku akan membunuhnya. Bungsu berkata, aku cinta mama, tetapi tidak tahu bagaimana mengutarakannya. Ia membuka kedua belah tangannya dan merangkul ibunya. Si ibu dengan wajah berseri-seri berkata, mama senang mendengar kalian mencintai mama.

Tidak berapa lama, ibu berkata, mama harus mengirim sebuah surat yang penting sekali. Siapa yang mau mengantar ke kantor pos? Sulung berpikir, besok sambil sekolah mampir ke kantor pos, bukankah itu lebih baik? Anak kedua berpikir, aku anak perempuan dan tentu mama tidak akan menyuruh aku pergi. Anak ketiga melihat keluar, sedang gerimis, ia merasa malas untuk pergi. Bungsu bersiap-siap memakai jas hujan untuk mengantarkan surat.

Baca dan renungkanlah I Yoh 2:1-17
1. Apakah tandanya kita mengenal Allah? (Ayat 3)

2. Apakah predikat yang Alkitab berikan bagi orang-orang yang tidak melakukan Firman Tuhan? (Ayat 4)

3. Apakah tandanya bahwa Anda ada dalam Kristus? (Ayat  5-6)

4. Apakah lawan dari kehendak Allah? Apakah akhir dari melakukan kehendak dunia dan kehendak Allah? (Ayat 16-17)

5. Kehendak siapakah yang sedang Anda ikuti hari ini?


SHARED BY
Al.Kira


Source:
AOC - JAKARTA

Monday, June 6, 2011

Bahan Saat Teduh 06June2011

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”  (1 Yoh 1:9)

Seorang bocah berlatih katapel di hutan, tetapi tidak pernah berhasil mengenai sasaran. Ketika pulang, dilihatnya bebek peliharaan neneknya. Masih dalam keadaan kesal, dibidiknya bebek itu dikepala, matilah si bebek. Dia terperanjat dan sedih, lalu disembunyikannya bangkai bebek itu. Kakak perempuannya, Sally, mengawasi tetapi tidak berkata apapun.

Setelah makan, nenek berkata, "Sally, cuci piring." Tetapi Sally berkata, "Nenek, Johnny ingin membantu di dapur. Iya, John?" Dan Sally berbisik, "Ingat bebek?" Jadi Johnny mencuci piring.

Esoknya, kakek menawarkan anak-anak memancing, namun nenek berkata, "Maafkan, aku perlu Sally membantu menyiapkan makanan." Tetapi Sally tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa, karena Johnny bilang ingin membantu." Kembali dia berbisik, "Ingat bebek?" Jadi Sally memancing dan Johnny membantu nenek.

Setelah beberapa hari, Johnny tak tahan. Ditemuinya nenek dan mengaku. Nenek merangkulnya, "Sayangku, tidakkah kau lihat, aku berdiri di jendela dan melihat semuanya. Karena aku mencintaimu, aku memaafkan. Hanya aku heran berapa lama engkau akan membiarkan Sally memanfaatkanmu."

Baca dan renungkanlah I Yoh 1:5-10
1. Sebagai apakah dosa digambarkan? Mengapa dosa bertentangan dengan Allah? (Ayat 5)

2. Apa yang harus kita lakukan agar beroleh persekutuan dengan Tuhan? Dan jika kita melakukannya, apakah yang darah Kristus lakukan? (Ayat 6-7)

3. Apa yang harus kita lakukan ketika kita jatuh dalam dosa? (Ayat 9)

4. Kira-kira apakah tindakan pertobatan kita sebagai tanda bahwa kita hidup di dalam terang?


SHARED BY
Al.Kira


Source:
AOC - JAKARTA

Bahan Saat Teduh 05June2011

“Apa yang telah engkau dengar daripada-Ku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Timotius 2:2)

Tuhan Yesus memberi Amanat Agung kepada para murid agar mengajar murid-murid hasil penginjilan untuk melakukan segala perintah-Nya, misalnya perintah untuk tidak melawan orang yang berbuat jahat kepada mereka (Matius 5:39). Nantinya, Petrus, Yohanes, dkk pun harus mengajarkan murid-murid baru untuk melakukan Matius 5:39 itu.

Seperti itulah, Paulus mendorong Timotius untuk “menyalurkan” apa yang telah didengarnya dari Paulus kepada orang-orang “yang juga cakap mengajar orang lain.” Dengan cara itu pula, ratusan juta orang telah ditemukan dan dijadikan murid-murid Yesus, dan merupakan suatu kesatuan yang sangat penting dalam melaksanakan Amanat Agung Yesus Kristus sampai kepada generasi kita ini.

Buku Le Roy Eims “Pemuridan Seni yang Hilang” menjelaskan pemuridan bukanlah suatu program yang dijadwalkan, namun pemuridan adalah komitmen orang-orang untuk meneruskan kebenaran dari satu orang kepada orang lain. Pemuridan adalah gaya hidup orang-orang yang dapat dipercaya untuk menyelesaikan Amanat Agung.

Bacalah dan renungkanlah lagi 2 Timotius 2:2.
1.Tentu Anda telah menerima banyak Firman Tuhan melalui banyak cara dari para pendeta, pengajar, pembina atau pembimbing Anda. Sudahkah Anda mempercayakannya juga kepada orang-orang lain?

2.Apakah Anda juga berkomitmen memastikan bahwa orang-orang itu juga akan mengajarkannya lagi kepada orang lain?

3.Marilah kita selalu menjadi pelaku Firman. Lalu, membagikannya kepada orang-orang lain, yang juga didorong untuk membagikannya lagi kepada orang-orang lain melalui berbagai saluran pertemanan, sehingga semakin banyak orang yang menerima berkat dan kasih Tuhan sampai berkelimpahan!


SHARED BY
Al.Kira


Source:
AOC - JAKARTA

Bahan Saat Teduh 04June2011

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19).

Tahukah Anda bahwa kita dipanggil dengan sebuah misi besar? Ketika menjadi Kristen, bukan berarti kita hanya sibuk dengan gereja dan komunitas sendiri. Perkataan terakhir dari Tuhan Yesus sebelum terangkat ke Surga (Matius 28:19-20) menegaskan hal ini. Pesan terakhir sebelum seseorang pergi jauh untuk waktu yang lama atau ketika hendak meninggal adalah sesuatu yang amat sangat penting. Jadi, pesan terakhir Tuhan ini, yang biasa disebut Amanat Agung Tuhan adalah sesuatu yang harus kita berikan perhatian utama.

Amanat Agung ini merupakan perintah Tuhan kepada setiap anak Tuhan, tanggung jawab kita semua, dan bukanlah khusus menjadi pelayanan pendeta saja. Kita semua adalah hamba Tuhan. Pendeta adalah hamba Tuhan, karyawan adalah hamba Tuhan, pejabat adalah hamba Tuhan, pengusaha adalah hamba Tuhan, apapun profesi kita, semuanya adalah hamba Tuhan.

Baca dan renungkanlah Matius 28:18-20
1.Siapakah sasaran Amanat Agung? Untuk menjadi apa? (ayat 19a)

2.Selain pembaptisan, bagaimanakah cara melaksanakan pemuridan itu? (ayat 19b-20a)

3.Diajar untuk sekedar tahu saja atau apa? Melakukan apa? (ayat 20a)

4.Apakah Tuhan membiarkan kita sendirian dalam pemuridan itu? (ayat 20b)


SHARED BY
Al.Kira


Source:
AOC - JAKARTA

Friday, June 3, 2011

Bahan Saat Teduh 03June2011

“Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus” (Filipi 1:27).

Arti dari kata “injil” adalah “kabar baik”. Namun, Injil bukanlah hanya sebuah berita atau ucapan bibir saja. Jauh ke dalam Injil adalah sebuah gaya hidup berkemenangan yang dihidupi dengan segala ketekunan. Hidup kita adalah sebuah berita itu sendiri.

Itulah sebabnya Paulus menasehati jemaat di Filipi agar hidup berpadanan dengan Injil. Bagaimana mungkin orang bisa menerima berita Injil jika mereka sudah menolak sang pemberita Injil, bukan? Mereka menolak sang pemberita bukan karena berita yang dibawanya, namun karena gaya hidup sang pemberita tidak mencerminkan berita yang dia bawa.
Betapa sebagai anak-anak Tuhan, hidup kita harus benar-benar mencerminkan Kristus. Pertobatan sejati seharusnya tampak di dalam gaya hidup kita. Gaya hidup yang menjadi teladan bagi orang-orang percaya, terlebih lagi bagi orang yang belum percaya.

Baca dan renungkanlah 1 Timotius 4:12
1.Bagaimanakah supaya orang tidak merendahkan kita?

2.Menurut Anda apakah artinya menjadi teladan tersebut?

3.Dalam hal apa sajakah kita harus menjadi teladan?

4.Adakah di dalam hidup Anda sesuatu yang belum bisa menjadi teladan? Apakah itu? Mulai hari ini berdoalah minta Roh Kudus memberikan kekuatan untuk Anda bisa berubah.


SHARED BY
Al.Kira


Source:
AOC - JAKARTA

Bahan Saat Teduh 02June2011

“Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!” (Filipi 4:50)

Di dalam dunia yang “hambar” ini, banyak orang kehilangan makna hidup. Sekadar rutinitas untuk mempertahankan hidup dalam situasi dunia yang semakin keras dan sulit. Orang mencari nafkah atau mengejar posisi dengan saling berebut, menjilat, menyikut, dan “memakan”.

Dalam situasi seperti ini, hendaknya kita tidak menjadi bagian dari masalah, tetapi menjadi bagian solusi. Jadilah orang yang dapat dipercaya dalam segala hal. Jadilah orang yang berintegritas dengan melakukan semua yang kita katakan, menggenapi semua yang kita janjikan. Jadilah orang yang paling menyenangkan untuk ditemani. Agar orang melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa di Surga. Ingatlah bahwa orang lain bukan hanya mendengarkan berita Injil yang kita bawa tetapi juga mereka melihat gaya hidup kita dalam dunia yang “gelap” ini.

Baca dan renungkanlah Matius 5:14-20
1.Apakah fungsi terang? (ayat 14)

2.Adakah gunanya jika terang disembunyikan? (ayat 15)

3.Menurut Anda apakah maksud ayat ini bagi hidup Anda? (ayat 16)

4.Jika orang Farisi berbuat baik secara munafik, menurut Anda bagaimanakah Anda pribadi dapat hidup lebih benar daripada mereka? (ayat 20)


SHARED BY
Al.Kira


Source:
AOC - JAKARTA

Wednesday, June 1, 2011

Bahan Saat Teduh 01June2011

"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” (Matius 5:13)

Hanya sedikit garam dibutuhkan untuk mengasinkan sepanci sup. Meskipun minoritas, namun garam sangat powerful membawa pengaruh luas. Ketika Tuhan berkata, “Kamulah garam dunia”, yang Tuhan maksudkan adalah supaya kita melakukan fungsi memberi rasa kepada dunia yang “hambar” ini. Memberi kasih dimana ada kebencian, membawa damai di mana ada kericuhan, dan membawa penghiburan dimana ada kesedihan. Meskipun kita minoritas, namun secara pengaruh dan rasa kita adalah mayoritas.

Dengan demikian, kita mempraktikkan kasih Tuhan bukan hanya di dalam komunitas gereja, tetapi juga kepada komunitas dunia di mana kita berkegiatan sehari-hari. Bisa lingkungan kantor, lingkungan sekolah, tetangga, keluarga, dan lain-lain. Di sanalah kita menyebarkan pengaruh dan rasa kita sebagai anak-anak Tuhan yang hidup berpadanan dengan Injil, sehingga hidup kita menjadi sebuah kesaksian hidup bagi orang-orang di sekeliling kita. Injil bukanlah perihal perkataan namun sebuah gaya hidup yang sungguh-sungguh dihidupi.

Baca dan renungkanlah ayat-ayat di bawah ini.
1.Maukah Anda berbahagia? Siapakah orang yang berbahagia? (Matius 5:9)

2.Bagaimanakah cara membawa damai?  (II Korintus 5:18-19)

3.Dengan apakah Tuhan mengibaratkan kita? Bagaimanakan cara mengaplikasikannya ke dalam hidup Anda? (Matius 5:13)

4.Ayo buat perencanaan apakah yang akan Anda lakukan di komunitas Anda, sehingga dengan perbuatan, karakter dan kelakuan Anda orang akan menikmati kasih Kristus.


SHARED BY
Al.Kira


Source:
AOC - JAKARTA